The spirit of Java part 2

Januari 23, 2014 at 07:36 Tinggalkan komentar

Solo, 2 Januari 2014

Wedangan
Seperti kunjungan keluar kota lainnya, sebisa mungkin, Ayah selalu sempatkan untuk jalan pagi di sekitar hotel, selain dapat menikmati segarnya udara pagi, seringkali saat jalan pagi, Ayah bisa mengamati sisi lain aktivitas masyarakat setempat. Begitupun saat kunjungan ke Solo, saat jalan pagi disekitaran jalan Slamet Riyadi, ngak sengaja lihat gerobak mirip angkringan di Jogja, gerobak apaan tuh??. Namun karena jarak tempuh masih cukup dekat dan kedua kaki masih ingin bergerak, terpaksa, niat untuk mampir dan mengamati aktivitas warga disekitar gerobakanpun tertunda.

Jalan pagi kembali dilanjutkan, dan tak terasa, sampailah Ayah di patung yang menjadi salah satu icon kota Solo yaitu patung Slamet riyadi, foto-foto dulu, mumpung mentari pagi masih memencarkan sinarnya dan aktivitas warga di gerbang keraton masih sepi.

image

Jalan pagi sampai patung slamet riyadi

Puas berfoto ria, lihat hasil treking, lumayan hampir 2 km, dengan perjalanan pulang bisa dapat lebih dari 3km nih, cukuplah untuk olahraga pagi ini.

image

hasil traking jalan pagi

Saatnya jalan pulang menuju hotel, dan seperti rencana sebelumnya, mampir sejenak di gerobakan yang ada di pinggir jalan slamet riyadi. selidik punya selidik, gerobakan yang mirip Angkringan ini namanya wedangan. Normalnya Wedangan ini buka di malam hari, namun karena semalam tidak sempat untuk mampir ke sini dan pagi ini ketemu spesies ini di jalan slamet riyadi, jadi deh mampir sejenak mengamati aktivitas warga, sambil menikmati sebungkus nasi kucing dan segelas teh hangat manis.

Kalau dari sisi rasa, sebenarnya rasa makanan tidak terlalu istimewa, tapi cobalah sekali-kali ikut mendengarkan percakapan orang-orang yang duduk di wedangan ini, tentunya dengan bahasa ibu mereka, alias boso jowo. menikmati nasi kucing dan menyeruput teh hangat, sambil menikmati percakapan orang-orang yang duduk disitu, rasanya hidup itu santai, dan tidak ada beban. Sangat cocok untuk teman-teman yang terbiasa hidup serba cepat, penuh target dan banyak tekanan.Terkadang untuk lebih memaknai hidup, kita hanya perlu melihat kehidupan dari sisi yang lain

image

Saat Ayah ceritakan pengalaman Ayah mendengarkan percakapan orang-orang di wedangan ke om Hatta, diapun setuju seraya memberikan usul lain, untuk mencoba naik bis kota dan mendengarkan percakapan supir dan kernet bus di kota Solo. Mungkin dilain kesempatan usul om Hatta patut dicoba, belajar mensikapi hidup dari sisi lainnya lagi.

Sop buntut dan sop buntut goreng ibu Ugi

Sengaja saat booking hotel, Ayah dan Bunda sepakat memilih opsi tanpa sarapan pagi, selain bisa lebih hemat, Ayah dan Bunda ingin mencoba sarapan pagi khas kota Solo. Sudah dapat informasi dari oma semalam, untuk sarapan pagi ada beberapa pilihan yaitu nasi liwet di depan hotel, timlo Sastro, atau soto mbok Giyem, namun rencana tinggal rencana, pagi ini mas Nara dan dede Ran bangun kesiangan, padahal jam 11 harus sudah standby di tempat makan oma, nasib-nasib ~Teamlo Solo, riwayatmu kini~ dilagukan seperti lagu bengawan Solo, hehehe

Tepat pukul 11 siang, De Saputro meluncur ke rumah makan Oma untuk merasakan dahsyatnya sop buntut dan sop buntut goreng. Datang lebih awal, supaya kebagian, karena kemarin siang sop buntutnya sudah habis…bis….bis. Sesampainya di tempat makan Oma, sudah tersedia Sop Buntut , ditambah pecel khas Solo dan Ayam goreng kampung, telur, sosis solo dan jajanan pasar khas kota solo lainnya, banyak buangett (uakehhh tenan), ini sih porsi makan seminggu, ternyata ada hikmahnya juga tidak sarapan pagi hari ini, hehehe. Dan tanpa tongkat komando, De Saputro langsung menikmati santap setengah siang yang disediakan Oma. Ayah dan Bunda memilih Sop Buntut dan pecel khas Solo, sedangkan Mas Nara dan dede Ran memilih teloor.

Kesan pertama saat mencoba sop buntut, Daging buntutnya lembut, ditambah rasa kuahnya yang gurih, Maknyuss, pantes kemarin siang sajian ini sudah habis. belum selesai menuntaskan sop Buntut yang disediakan, Oma sudah menyajikan Buntut Goreng beserta kuah sup, wah, bisa tambah berat badan nih. Selanjutnya menikmat sajian Pecel khas Solo, bedanya pecel khas Solo dengan pecel Madiun adalah kuah kacangnya lebih kental dibandingkan dengan kuah kacang pecel Madiun. Sayuran yang disajikanpun, benar-benar baru dimasak ketika pembeli memesan, jadi jangan khawatir terhadap kesegarannya.

 

image

buat yang ingin merasakan Sop Buntut goreng cabang Ibu Ugi ini, bisa mampir ke Jalan Veteran  no 216 (timur SPBU).

Srabi Notosuman

Selesai santap siang, Engkong datang dengan membawa tentengan. Telisik di telisik, ternyata salahsatunya adalah Srabi Notosuman, Engkongpun mempersilakan De saputro menikmati Srabi Notosuman.

image

Penampakan Srabi Notosuman

 Meskipun perut sudah terasa kenyang karena Sop Buntut goreng dan pecel khas Solo, demi menjawab rasa penasaran Ayah, akhirnya masuk juga satu srabi kedalam perut, rasanya gurih, mantaaaap. Sayang perut sudah tidak sanggup menikmatinya , jadi terpaksa dibawa deh kotakannya untuk dinikmati nanti. Makasih ya Engkong dan Oma, atas traktirannya.

Roti smeer

Dapat pesanan dari Engkong di Bekasi, untuk beli roti Smeer, informasi yang di dapat dari Oma dan Engkong Solo, roti smeer favorit Engkong di Bekasi adalah roti smeer prestasi. dan lokasinya ternyata tidak jauh dari tempat makan Oma, hanya beda beberapa blok saja. Langsung deh SMP (sudah makan pulang) izin untuk check-in di hotel yang lain (Maklum ada perubahan rencana, yang awalnya kita hanya menginap satu hari, akhirnya menambah satu hari atas permintaan Engkong dan Oma Solo, dan karena hotel sebelumnya full book, akhirnya kita pindah ke hotel lainnya). Mampir sejenak ke toko yang menjual roti Smeer, namanya toko roti Prestasi, tidak ada penampakan yang istimewa dari toko ini, hanya saja beberapa mobil lalu lalang mampir dan meninggalkan toko ini.

Roti Smeer

setelah bertanya ke pegawai toko yang bertugas, roti smeer baru ada jam 2 siang, oke nanti kita kembali lagi mbak, ujar Bunda ke petugasnya.

dan selesai jalan-jalan, saat kembali pukul 2.30 siang menjelang sore, ternyata roti smeer yang dimaksud sudah habis, whaaaaaat?????,  kok bisa? padahal sebelumnya belum ada, dan sekarang sudah habis. Akhirnya kita beli seri roti yang lain yaitu roti smeer keju.

Bersambung

Entry filed under: My Lovely food, My Lovely Journey. Tags: , , , , .

The spirit of Java part 1 Jalan-jalan bersama si kecil yuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 678,727 hits

Kategori


%d blogger menyukai ini: