The spirit of Java part 1

Januari 13, 2014 at 10:19 Tinggalkan komentar

1 January 2014

Saat orang-orang terjaga merayakan pergantian tahun di Jogjakarta, Ayah justru tertidur pulas, maklum semalam, Jogja diguyur hujan. Setelah puas beristirahat, pagi ini sebelum berangkat ke Solo, De Saputro mau anter eyang kung dan eyang uti dulu ke stasiun, kebetulan jarak hotel ke stasiun tidak terlalu jauh, jadi tinggal ngesot, bisa langsung sampai, hehehe.

Waktu jalan menuju ke stasiun Jogjakarta, di dekat area tugu, masih tersisa kemeriahan perayaan tahun baru semalam, beberapa anak muda dengan muka lusuh dan gembira sedang berfoto-foto ria dengan background tugu Jogjakarta. Tidak sampai 10 menit, sampailah GL di stasiun Jogjakarta, foto-foto dulu, kebetulan bisa memarkirkan GL di bagian depan stasiun

image

Hari pertama tahun 2014, salam dari Jogja.

Setelah mendrop eyang Kung dan eyang Uti, De-saputro kembali ke hotel, bersih-bersih badan dulu biar seger. Sambil menikmati sajian sarapan pagi di hotel, agar tidak nyasar diperjalanan, cari rute dulu ke destinasi selanjutnya.

image

Keraton Solo
mandi-done, sarapan pagi-done, beres-berea barang bawaan-done, saatnya menuju kota Solo.

Alhamdulillah perjalanan Jogja menuju Solo pagi ini tidak terlalu macet, mungkin masih pada tidur karena menyambut kedatangan tahun baru kali ya, hehehe. Kurang lebih 2 jam perjalanan, sampailah de Saputro di kota Solo.Ups tapi sebelum ketempat Engkong, asiknya kemana dulu ya?

Berhubung tujuan utama ke kota Solo hanya untuk bersilaturahmi ketempat Engkong dan Oma, Ayah dan Bunda sampai lupa cari info tempat-tempat menarik di kota ini.kebetulan saat lihat papan penunjuk di jalan Slamet Riyadi ada petunjuk menuju keraton, kayaknya seru juga main ke keraton Solo.

Menjelang patung slamet Riya tepat didepan pintu masuk keraton, jalan mulai padat merayap, ada apa nih, kirain masih pada tidur, ternyata sudah mulai berakivitas? Kebetulan disebelah kanan ada juru parkir yang mencoba mengarahkan untuk parkir, Ayah ikuti saja masuk kedalam area gedung, ternyata sudah banyak juga mobil yang parkir disini, ya sudah ikut parkir saja.

image

Setelah mobil terparkir, de Saputro mulai berjalan menuju gerbang bertuliskan Sekaten, cukup padat kendaraan dan orang yang masuk kesana, namun sebelum melanjutkan perjalanan , abang mas Becak yang ada di depan gerbang memberitahu, sulit bawa troley kedalam, penuh karena ada sekatenan. Memang mau kemana tanya mas Becak? Mau kekeraton pak. Wah jauh dan susah mas kalau bawa troley, kalau mau naik becak saja, nanti lewat jalan lain. dengan dalih agar tidak rempong karena bawa dua unyil dan stroler, diputuskan untuk naik becak menuju keraton.

Ngomong-ngomong tentang Solo, sebenarnya sudah beberapa kali Ayah ke kota ini, namun karena saat kunjungan tersebut Ayah masih kecil, pengalaman berkunjung di kota solo sudah lupa.terlupa
image

Berbecak ria di antara tembok tinggi keraton

Mulailah 2 becak berjalan beriringan melewati masjid Agung Surakarta, dan tak sengaja melewati pasar klewer, pasar yang masih ada di memory Ayah, tempat engkong dulu mengajak Ayah dan cucu lainnya jalan-jalan.

image

Tak sengaja lewat pasar klewer

Setelah melewati pasar klewer, mulai tampak tembok-tembok tinggi khas keraton. Dan sampailah di keraton Solo

image

tampak muka keraton solo

Untuk masuk kedalam keraton, masing-masing dikenakan biaya 10rb rupiah, oh iya saat masuk kearea keraton tidak diperkenankan memakai sendal, jadi pilihannya tidak memakai alas kaki sama sekali atau memakai sepatu.

image

Bagian dalam keraton

Aura keraton sepertinya kurang cocok dengan anak kecil, saat berada didalam keraton dede Ranmerasa kurang nyaman dan tidak mau masuk ke bagian dalam museum, jadi diputuskan untuk tidak berlama-lama dikeraton Solo.

Selesai kunjungan ke keraton dan, saat kembali menuju becak yang sebelumnya dinaiki. Sebenarnya abang becak menawarkan untuk mampir untuk melihat-lihat batik, namun karena Ayah dan Bunda kurang tertarik dengan batik, jadi perjalanan becak dilanjutkan langsung ketempat GL diparkirkan.

Engkong dan Oma Solo
Dari keraton solo kunjungan dilanjutkan menuju ketempat Engkong dan Oma Solo, agar tidak merepotkan tuan rumah, kunjungan ke Solo kali ini sengaja tidak ngomong terlebih dahulu. Sebenarnya resikonya cukup besar, bisa saja Engkong dan oma sedang tidak ada di rumah, tapi ketimbang merepotkan tuan rumah dan khawatir mengecewakan misal  karena suatu hal tidak jadi berangkat, Ayah dan Bunda masih sering diam-diam jika ingin berkunjung kerumah family.Selesai bersantap siang di restoran cepat saji, dengan bimbingan dari oma Solo, sampai juga di tempat makan milik Engkong dan Oma solo, silaturahim sejenak bercakap-cakap. Kemudian janjian sore nanti untuk berkuliner malam di kota Solo.

Mampir sejenak ke hotel, sekalian mandi dan rebahan sejenak, sebelum janjian sama Engkong dan Oma Solo

Bakso Alex
Tanya-tanya om Hatta tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di Solo, malah dapet jawaban Solo itu kota buat kuliner, waduh salah info nih Ayah. Langsung browsing tempat kuliner di Solo. Mumpung lagi di tempat para pembuat bakso (kan banyak penjual bakso berasal dari kota solo), sekalian aja kita icip-icip bakso. Kebetulan dari hasil browsing ada warung bakso di dekat hotel, langsung saja ke lokasi
image

Nasi Liwet mbok Sani

Seperti rencana semula, sore menjelang malam ini janjian sama Engkong dan Oma Solo, janjian di tempat makan Engkong.

Mau makan apa nih? Tanya Engkong Solo, membuka percakapan saat ketemuan di depan tempat makan,
Ayah : apa aja yang ciri khas Solo,
Engkong : Nasi Liwet ya
Ayah : setuju

Ditemani Oma, mas Nara, Dede Ran, Bunda dan Ayah segera mengikuti mobil yang dikendarai Engkong. Ternyata De Saputro diajak ke area Solo baru, tak berapa lama mobil engkong berhenti di pinggir jalan yang ada warung tendanya.Meski hanya warung tenda, cukup banyak mobil yang parkir ditempat tersebut artinya warung tenda ini pasti rasanya enak. Awalnya Ayah diminta menunggu di mobil oleh Engkong, tapi karena penasaran, Ayah ikut melongok kedalam warung tenda, cukup banyak pengunjung didalamnya.

image

Kata Engkong, nasi Liwetnya di bungkus aja, nanti makannya ditempat lain, soalnya tempatnya ramai takut ngak nyaman kalau makan disitu. Setelah nasi Liwet terbungkus, perjalanan dilanjutkan kembali menuju warung makan lesehan yang nyaman, pas buat ngobrol-ngobrol dan tempatnya cozy abis, ada tempat main untuk anak-anak juga lagi.

Supaya ngak terlalu kelihatan kalo kita mau numpang makan, selain meminjam 3 piring, kita juga pesan beberapa menu, hehehe.
Sambil menunggu pesanan datang, dapat informasi dari Oma, kalau tadi sebenarnya nasi liwet hanya tersisa dua bungkus saja, tapi berkat diplomasi Oma yang super duper, dapet juga 3 bungkus, makasih ya Oma, maaf sudah ngerepotin.

Sedikit pakai lama, akhirnya datang juga pesanan kita, dan nasi liwet yang sebelumnya dibungkuspun tersaji diatas meja, sayang hanya 3 bungkus, jadi hanya De Saputro saja yang merasakan sedangkan Engkong dan Oma solo beralasan sudah biasa merasakan nasi liwet.

Saat merasakan nasi liwet, memory masa kecil tepatnya dirumah Engkong buyut, kembali mengalir, menggunakan sendok dari daun pisang, menikmati nasi liwet yang banyak dijajakan dipagi hari, sampai tak terasa, satu bungkus nasi liwet pun habis tak bersisa.

image

Thanks to Engkong dan Oma Solo sudah ditraktir, tetep sehat yaa

 

Entry filed under: My Lovely food, My Lovely Journey. Tags: , , , , , .

Yuk kurangi keinginan untuk berhutang The spirit of Java part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 678,727 hits

Kategori


%d blogger menyukai ini: