Yuk kurangi keinginan untuk berhutang

Januari 11, 2014 at 22:15 1 komentar

Sudah beberapa kali Ayah di telpon dan di SMS marketing Bank yang menawarkan berbagai jenis pinjaman, mulai dari yang katanya tanpa bunga, sampai dengan pinjaman yang bunganya selangit. Sempat tergoda untuk mengambil tawaran tersebut, terutama pinjaman yang hanya perlu membayar biaya administrasi di awal, dalihnya tidak lain dan tidak bukan, akan Ayah gunakan uang pinjaman tersebut untuk berinvestasi, tapi investasi apa? ujung-ujungnya uang pinjaman tidak terpakai dan sedikit terganggu dengan rutinitas cicilannya. Malah terakhir dalihnya membantu pegawai yang menawarkan pinjaman, anggap aja, bapak bayar parkir, bantu saya agar target tercapai, begitu ujarnya, dan ayahpun mengiyakan.

Kebanyakan kita, termasuk ayah, mulai terjebak dengan sistem hutang, beli rumah berhutang, beli mobil berhutang, beli handphone berhutang, beli baju berhutang, bahkan untuk beli makanpun berhutang. syarat berhutangpun, makin lama makin mudah, tinggal gesek kartu kredit, done, langsung bisa berhutang, beberapa diiming-imingi dengan bunga 0%, bahkan ada beberapa kasus, beli dengan berhutang (baca: cicil/ kredit) secara total, harganya justru lebih murah daripada membelinya dengan uang kontan.

Beberapa teman yang ingin membeli motor/mobil baru bercerita, sulitnya membeli motor baru/mobil baru dengan membayar kontan dibandingkan membelinya secara kredit atau berhutang (ya iya lah wong salesnya dapat fee dari lembaga financial, kalo ada pembelian dengan sistem kredit), sudah mulai terbalik dunia sepertinya, hehehe.

Saat sedang bersilaturahim ke rumah Engkong di Bekasi, disela-sela obrolan ringan, Eyang Mami bertanya ke Ayah
Eyang Mami : kamu masih pakai kartu kredit nal?”
Ayah : Masih mah, kenapa emangnya
Eyang Mami : iya hati-hati pakainya, siA temen mamah, terjebak utang kartu kredit, jumlahnya sampai satu M, sekarang dikejar-kejar debt kolektor/tukang tagih
Ayah : Banyak amat mah, pake buat apa aja
Eyang : macem-macem, beli rumah, perbaikan rumah, kamu hati-hati ya pakainya
Ayah : tenang mah, untuk urusan kartu kredit Ayah udah tau selanya, yang penting harus dilunasin sebelum jatuh tempo.

Asuransi?
Masih soal hutang, saat sedang seru-serunya berkendara di padatnya lalu lintas ibukota, teringat obrolan tentang temen Eyang yang terlilit hutang kartu kredit, tiba-tiba terlintas pikiran tentang bagaimana kalau Ayah tiba-tiba kecelakaan, kemudian meninggalkan dunia fana ini, siapa yang nanti bayar hutang Ayah? Kasihan kan kalau beban hutang akan diwariskan ke keluarga tercinta, Bunda, Mas Nara dan dede Ran, harus menanggungnya, tidak tega rasanya. Kan ada asuransi, begitu jawab logika Ayah, tapi hati kecil Ayah masih kurang puas dengan solusi tersebut. Maklum ada beberapa kasus mencuat kalau klaim asuransi tidak diterima, detailnya Ayah masih belum sempet cari tau, tapi logika berpikir Ayah menjawab, mana ada sih perusahaan yang ngak pengen untung, mereka pasti mencoba daya upaya supaya klaim tidak perlu dibayar penuh.
Ngak mau ngebayangin Bunda yang kerepotan ngurus klaim asuransi, ditengah banyaknya tagihan hutang, kasihan.

Kalau menurut Ayah, membayar uang dengan klaim asuransi seperti mencegah penyakit AIDS dengan bantuan kondom, tidak kena akar masalahnya. Cara efektif mencegah penularan penyakit AIDS ya jangan jajan dan setia kepada pasangan. Begitupun untuk pelunasan hutang dengan asuransi, uang klaim belum tentu didapat, tukang tagih atawa debt collector tetap datang. jadi kalau tidak mau tukang tagih datang, ya jangan berhutang.

Buah ketidaksabaran

Kalau kembali dipikir, kenapa sih kita perlu berhutang? Beberapa mungkin menjawab karena tidak punya uang, nilai inflasi terus naik jadi kalau tidak beli sekarang, harga akan naik, mumpung ada promo, dan lain-lain. Kalau menurut Ayah, salahsatu faktor terbesar kita berhutang adalah karena kita tidak sabar, loh kok bisa? Ya bisa donk, ngak sabar pengen punya mobil, padahal belum punya duit yang cukup, akhirnya berhutang/kredit, ngak sabar pengen punya rumah, duit belum ada akhirnya berhutang/kredit, mau belanja tapi belum gajian akhirnya berhutang/kredit, mau beli parabot, belum punya uang, akhirnya kredit/berhutang dan masih banyak lagi. Ditambah, saat ini banyak jasa keuangan yang menawarkan kemudahan-kemudahan dalam berhutang. Padahal kalau saja kita mau lebih bersabar, seperti kebanyakan orang-orang tua kita, Ayah yakin kita tidak perlu berhutang

Kurangi penggunaan kartu kredit

Kartu kredit, dari namanya saja sudah bisa ditebak kartu untuk kredit atau kartu untuk berhutang. Biasanya Ayah rutin menggunakan kartu ini untuk berbelanja bulanan, padahal seringkali uang untuk berbelanja sudah tersedia di tabungan, kebiasaan yang terlihat normal, tapi sebenarnya berbahaya, karena kita sudah mulai terjerat sistem hutang kartu kredit.

Punya uang cash, atau kontan tapi lebih suka berhutang dengan kartu kredit, aneh kan? Kalau menurut anda kondisi tersebut aneh, berarti anda masih normal. Dulu Ayah menjawab biasa aja tuh, ngak ada yang aneh. Bahkan Ayah pernah berdebat dengan om Sas gara-gara mau membayar makan malam dengan kartu kredit, tapi om Sas keukeuh mau membayar secara kontan.

Sudah beberapa bulan terakhir ini, Ayah rutin tidak menggunakan kartu kredit untuk berbelanja bulanan, sebagai gantinya Ayah gunakan kartu debit atau kartu tunai. kartu debit, bilamana dipakai untuk transaksi, maka akan mengurangi uang di rekening kita, jadi prinsipnya bukan berhutang. Sejak menggunakan kartu debit untuk berbelanja, tidak ada beban pikiran bagaimana membayar tagihannya dibulan depan. Dan
Alhamdulillah hidup terasa lebih Indah dan berkah, coba deh, kurangi kebiasaan menggunakan kartu kredit.

Kalau bisa tunai kenapa mesti kredit.
Ini semboyan baru Ayah, mudah-mudahan tetep bisa istiqomah atawa konsisten untuk mengurangi keinginan berhutang.

Daripada dikejar-kejar debt collector yang biasanya berkata kasar dan berperangai buruk (maaf ya buat teman-teman yang berprofesi sebagai debt collector/tukang tagih). Mendingan ngak usah berhutang. Coba lihat orang tua kita yang tidak punya beban pikiran hutang, hidup terasa lebih santai, lebih indah.

Kalau belum punya uang ngak usah beli apa-apa, jangan memaksakan diri untuk membeli sesuatu yang tidak urgent tetapi mesti berhutang

Untuk kasus urgent, Ayah masih mentolerir untuk menggunakan kartu kredit, seperti rawat jalan kalau ada anggota keluarga yang sakit, atau lagi diluar kota untuk tugas kenegaraan, dan lain sejenisnya. Maklum untuk kedua contoh diatas mesti nanggung sendiri sebelum diganti kantor, hehehe.
Tapi paralel sedang berusaha supaya punya pocket
/ cadangan dana untuk contoh diatas, supaya ngak perlu berhutang.

Transaksi tunai

Membaca postingan salah seorang teman di group messaging, ada hal yang cukup menarik perhatian Ayah, temen Ayah menganjurkan untuk bertransaksi secara tunai, membayar setiap transaksi yang dilakukan menggunakan uang, seperti membayar belanjaan dengan uang tunai, yup seperti zaman dulu, tidak perlu menggunakan kartu debit atau kartu kredit. Wah rempoong donk.

info teman Ayah, ketika uang hasil keringat kita dihitung lembar demi lembar saat membayar suatu transaksi, perjuangan kita saat mendapatkan rupiah tersebut lebih terasa, kita jadi lebih menghargai setiap rupiah yang keluar. Kayaknya saran ini patut dicoba, bulan depan deh kalo belanja bulanan, coba bayar pakai uang tunai.

Ngomong-ngomong transaksi tunai, Ayah jadi ingat saat kunjungan ke negeri sakura, kalau ayah perhatikan, kebanyakan orang-orang disana, bertransaksi secara tunai, jarang ada yang menggunakan kartu kredit. Kalau masyarakat negara maju seperti jepang saja membiasakan diri bertransaksi secara tunai, kenapa kita yang tinggal di negara dunia ketiga (bukan kata Ayah, tapi kata orang loh) tidak mencontohnya

Jadi kita kurangi keinginan berhutang yuk.

~masih bersambung ahh ketopik lain seputar hutang~

Entry filed under: My Lovely self Improvement. Tags: .

Murah kok pak, ngak sampai puluhan ribu The spirit of Java part 1

1 Komentar Add your own

  • 1. Kartu Kredit = Kartu Hutang | My lovely baby  |  Februari 4, 2016 pukul 10:43

    […] tulisan tentang mengurangi keinginan berhutang, praktis Ayah sudah jarang menggunakan kartu kredit. untuk belanja bulanan sudah setahun terakhir […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 678,727 hits

Kategori


%d blogger menyukai ini: