Tabungan Pendidikan

Mei 15, 2010 at 21:41 7 komentar

Desember 2007

Setiap orang tua pasti menginginkan pendidikan terbaik untuk diberikan kepada anaknya, tak terkecuali ayah Nara. Kira-kira seminggu setelah Nara lahir, Ayah mulai mencari-cari informasi mengenai tabungan pendidikan. Salah satu yang menarik perhatian Ayah adalah sebuah buku seorang perencana keuangan yang namanya banyak muncul di kolom rubrik di majalah dan tabloid. di buku itu dijelaskan kalau nilai uang yang dikumpulkan saat ini akan berbeda nilainya di masa yang akan datang, nilai uang 1 jt dimasa sekarang tidak akan sama dengan nilai satu juta dimasa yang akan datang, ini mungkin yang sering di sebut inflasi. ngomong-ngomong tentang inflasi, jadi teringat sebuah lagu  yang cukup populer saat ayah kecil dulu, judulnya tukang bakso, dalam salah satu liriknya

“Abang tukang bakso, mari donk kemari saya mau beli”

Abang tukang bakso lekas donk kemari, sudah tak tahan lagi

satu mangkok saja 200 perak, yang banyak baksonya

tidak pakai saos, tidak pakai sambal, juga tidak pakai kol

jadi laper denger ada nama bakso di sebut, eitt bukan itu yang mau dibahas, tapi lihat berapa harga bakso saat ayah kecil dahulu, cuma 200 perak. coba berapa sekarang harga bakso, mungkin yang paling murah 5rb rupiah, itupun sudah jarang dijumpai, artinya nilai uang rupiah sudah berkurang lebih dari 10 x lipatnya dibandingkan saat lagu ini di populerkan.

Kembali mengenai tabungan pendidikan, di buku tersebut, sang penulis menganjurkan untuk menginvestasikan uang tabungan pendidikan yang dimiliki, ke dalam investasi yang menghasilkan nilai yang sama atau lebih dari nilai inflasi yang terjadi. misal nilai uang masuk kuliah saat ini 50 jt, 17 tahun yang akan datang katakanlah nilai inflasi menjadi 10xnya, jadi nilai uang masuk kuliah 17 tahun yang akan datang akan bernilai 500 juta. jumlah yang benar-benar spektakuler jika di nilai saat ini.

Sayangnya dibuku tersebut tidak di sebutkan secara ekplisit bentuk investasi apa yang bisa mengejar nilai inflasi sebesar itu.

Pada saat yang berdekatan dengan itu Ayah ditawari program asuransi pendidikan oleh salah satu sales perusahaan asuransi ternama. Sales tersebut mempromosikan keunggulan program asurasi pendidikan yaitu :

1. Nilai uang yang kita setorkan tiap bulan akan bertambah nilainya, karena akan di investasikan kedalam saham atau reksadana (tergantung pilihan)

2. Seandainya terjadi apa-apa dengan penyetor (dalam hal ini Ayah), maka tertanggung (dalam hal ini Nara) akan menerima sejumlah dana yang nilainya sama dengan yang seharusnya diterima saat dibutuhkan.

3. Seandainya tidak terjadi apa-apa dengan si Penanggung, uang yang disetorkan bisa diambil dengan nilai yang sudah bertambah.

Akhirnya, setelah berdiskusi dengan Bunda, diputuskan untuk ikut program asuransi pendidikan yang ditawarkan.

January 2009

Krisis finansial mulai terjadi dimana-mana, banyak lembaga keuangan yang kolaps menghadapi krisis ini, nilai saham dan reksadana berjatuhan. tak terkecuali nilai tabungan pendidikan yang ayah ikuti sejak setahun yang lalu, nilainya pun ikut turun. tidak panik sih, tapi ayah mulai berfikir, seandainya krisis ini terjadi saat Nara akan masuk kuliah, pasti ayah akan stress memikirkan penurunan nilai uang yang sudah di investasikan. sejak saat itu Ayah bertanya-tanya, bener ngak ya keputusan ayah untuk ikut asuransi pendidikan?

Setelah mencari banyak informasi, Ayah mendapat sebuah pelajaran baru, yaitu :

Memisahkan instrumen Tabungan, Investasi dan Asuransi

hal ini sangat bertolak belakang dengan istilah asuransi pendidikan/tabungan pendidikan yang selama ini ayah ketahui. karena kebanyakan asuransi pendidikan menggabungkan ketiga komponen tersebut. Padahal masing-masing komponen punya kelebihan dan keterbatasannya masing-masing.

Tabungan, jumlahnya akan bertambah seiring waktu, namun nilainya akan berkurang karena tergerus inflasi.

Tabungan umumnya dalam bentuk uang, namun apakah pernah terpikirkan untuk menabung dalam bentuk lain? dalam pencarian informasi mengenai tabungan Ayah sempat singgah di web yang membahas tentang emas, di situ di jelaskan bahwa nilai emas tidak akan terkena inflasi. awalnya tidak percaya begitu saja dengan informasi yang di dapat, namun setelah mencari-cari informasi ditempat lain dan pengalaman sendiri. Akhirnya per July 2009, ayah putuskan untuk menabung sebagian tabungan dengan fine gold 99.9% (atawa logam mulia) https://gyannara.wordpress.com/2009/07/06/pembelian-emas-di-logam-mulia/.

Tidak sampai 1 tahun sejak pembelian logam mulia, nilai emas logam mulia yang ayah miliki sejak setahun yang lalu, saat ini sudah memiliki selisih lebih dari 1.2 juta dari saat membelinya pertamakali.Berarti nilai rupiah kita saat ini sudah turun 10% nilainya jika dibandingkan dengan harga emas.

Selain menabung dalam bentuk emas logam mulia, ayah juga ikut program tabungan rencana yang di buat oleh salah satu bank terbesar di Indonesia. Kelebihan program ini adalah, penabung seperti dipaksa untuk menabung setiap bulan, hal yang cukup berdampak baik khususnya buat ayah Nara yang kurang disiplin.

Investasi, Kelebihan dari instrumen ini, jika untung, nilai uang kita akan bertambah, namun jika rugi, nilai uang kita akan berkurang, bahkan bisa saja menjadi nol.

contoh mudah dari instrument ini adalah berdagang, jika dagangan kita laku, kita akan menanguk untung, namun jika dagangan kita tidak laku, maka bisa dikatakan dagangan kita rugi. hal yang satu ini tidak dijelaskan secara ekplisit oleh sales tabungan pendidikan, yang dijelaskan hanya keuntungannya saja. tidak pernah dijelaskan bahwa setiap investasi selalu ada resiko rugi.

Untuk investasi ayah Nara belum menentukan investasi apa yang akan ditekuni sampai saat ini baru jadi pedagang musiman saja, hehehehe. Untuk mengurangi faktor resiko, banyak yang menganjurkan “untuk tidak meletakkan buah dalam satu keranjang yang sama”. ini mencegah jika salah satu keranjang yang ditempati bocor, tidak semua investasi ikut rugi, bahkan keranjang lainnya bisa membackup kerugian dari keranjang yang bocor, kira-kira seperti itu ilustrasinya. namun pada aplikasinya sering sulit untuk melakukan saran ini, karena selain modal yang besar, dibutuhkan juga sumber daya yang memonitor keranjang-keranjang yang lain.

Asuransi, hal yang satu ini berkaitan dengan proteksi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kita kedepan, sakitkah sehingga tidak lagi bisa bekerja, bahkan meninggalkan dunia fana ini.

Seandainya hal itu (meninggal dunia) terjadi, maka sebagian dari kita tentu berharap orang yang menjadi tanggungan kita tidak mengalami kesulitan (misal terlilit hutang yang kita ditinggalkan atau berhenti sekolah karena ketiadaan biaya). dengan adanya asuransi,maka seandainya itu terjadi, maka orang yang menjadi tanggungan akan berhak menerima sejumlah dana dari perusahaan asuransi.

Untuk instrumen yang terakhir ini tentunya kita tidak berharap hal tersebut terjadi , hal ini hanya sebagai proteksi saja.

Entry filed under: My Lovely Baby Gyannara. Tags: , , , , , .

Lampung, mutiara yang belum terpoles Bahasa Jepang buat para Pelancong

7 Komentar Add your own

  • 1. dewai  |  Mei 20, 2010 pukul 14:26

    iya betuuuuuul l!!!
    (apa coba hayo :p)
    Mas mo tanya dong, kenapa lebih memilih beli emas di logam mulia?
    bagaimana dengan membeli dinar?
    apakah ada pertimbangan tertentu?
    mohon pencerahannya🙂

    Balas
    • 2. gyannara  |  Mei 20, 2010 pukul 15:12

      – Alasan membeli emas fine gold 99.9% di logam mulia karena setau saya logam mulia yang merupakan unit bisnis Antam lah satu-satunya pembuat fine gold di Indonesia. alasan lainnya dengan membeli emas di logam mulia tidak ada tambahan margin yang dikenakan seperti membeli ditempat lain (seperti di pegadaian).
      – Setau saya Dinar yang di jual oleh logam mulia kena pajak PPN 10% dari harga normal, jadi harga Dinar di Indonesia lebih tingi 10% dibandingkan dinar negara lain
      – Tidak ada pertimbangan apapun kenapa membeli emas fine gold dan tidak membeli dinar, menurut saya karena kedua produk itu dari emas, pasti aman (tidak terkena inflasi) jika digunakan sebagai tabungan.

      Balas
  • 3. FA  |  Juni 24, 2010 pukul 15:55

    kalau kita menabung dalam bentuk logam mulia, pada saat kita ingin jual ke mana ya?

    Balas
    • 4. gyannara  |  Juni 24, 2010 pukul 16:36

      Dear mbak? FA, setahu saya bisa di jual diPT logam Mulia (tempat membelinya), namun ada selisih harga jual dengan harga belinya, per hari ini jika harga logam mulia per 10 gram adalah 369 rb/gram, harga pembelian kembali (buy back)adalah 352rb/gram (bisa dilihat di http://www.logammulia.com/news.php?id=9 harga buyback ada di paling bawah) berarti untuk logam mulia 10gram selisihnya sekitar 17 rb. selain di PT logam mulia, setau saya ada beberapa toko emas yang bersedia membeli logam mulia ini atau bisa di jual ke teman kita. Saya sendiri belum pernah menjual logam mulia yang saya miliki, jadi belum ada pengalaman, worsenya seandainya kita butuh dana cepat, logam mulia ini bisa juga gadaikan di pegadaian. mungkin link ini bisa sedikit membantu http://pt-kas.com/index.php?option=com_content&view=%20%20article&id=265:faq-tentang-logam-mulia-emas&catid=1:latest-n%20%20ews&Itemid=50.

      Balas
      • 5. Samsuddin  |  November 16, 2013 pukul 12:25

        Ya…kepegadaian paling cepat, yang penting ada sertifikatnya…

      • 6. gyannara  |  November 18, 2013 pukul 16:36

        Dear Mas Syamsuddin

        terimakasih sudah berkunjung kesini, iya mas pegadaian memang cepat, tapi bunganya lumayan tinggi berikut posting pengalaman saya menggadaikan logam mulia di pegadaian –> https://gyannara.wordpress.com/2011/10/26/pegadaian-mengatasi-masalah-tanpa-masalah/.Ngomong-ngomong menjual logam mulia, kebetulan dua tahun lalu saya ada keperluan dan harus merelakan logam mulia yang ada di tabungan, Alhamdulillah ada teman yang mau membeli, beda sedikit sama harga jual yang di tawarkan Antam. atau kalau lokasi di Jakarta, bisa ke aneka Logam di Mall artha gading, selain melayani pemjualan, mereka juga bersedia membeli logam mulia.

        salam
        Ayah Nara & Ran

  • 7. FA  |  Juni 25, 2010 pukul 08:49

    terima kasih atas jawabannya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 678,727 hits

Kategori


%d blogger menyukai ini: