Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-4

Februari 5, 2010 at 04:23 2 komentar

Wat Pho

Dari Grand palace, tujuan selanjutnya adalah Wat pho, letaknya “bersebelahan” dengan komplek grand palace. karena letaknya yang bersebelahan, Ayah, Bunda dan teman-teman bunda memutuskan untuk berjalan menuju wat pho. Jalan dari Grand Palace menuju Wat Pho cukup ramai, karena di pinggir jalan banyak penjual pernak-pernik, miniatur patung Budha, dan lain sebagainya, berikut foto jalan menuju Wat pho.

Setelah lima belas menit berjalan, mulai terlihat relief kuil Wat Pho.

Sesampainya di Wat Pho, duduk-duduk dulu untuk meregangkan otot kaki yang lelah karena berjalan, abis itu foto-foto sama saudaranya Om Jenggot

Habis foto-foto eh ada yang lagi minum kelapa, dipadu dengan panasnya cuaca di Bangkok. Akhirnya Ayah, Bunda dan teman-teman memutuskan untuk menikmati kelapa dingin sebelum merangsek masuk kedalam Wat Pho. ini dia fotonya.

dibanyak tempat di Bangkok, kita bisa menemui banyak penjaja kelapa dingin. Harganyapun relatif murah hanya 15-20 bath atau enam ribu rupiah. Setelah menikmati kelapa dingin, eksplorasi Wat pho pun dimulai, untuk masuk ke Wat Pho, biaya administrasinya adalah sebesar 50 bath.

Setelah tiket di dapat, Ayah, Bunda, dan teman-teman bunda segera masuk ke dalam ruangan yang didalamnya terdapat patung Budha sepanjang 46 meter, dengan tinggi 15meter.

di watpho ini selain wisatawan, banyak juga orang local yang melakukan ibadah, dan untuk orang lokal sepertinya tidak dipungut biaya. setelah melakukan ritual, orang-orang lokal ini kemudian berbaris di belakang patung Budha, untuk mengisi banyak wadah yang sudah disiapkan dengan uang receh (kalau tidak salah pecahan 1 bath per wadah).

Dari bangunan yang berisi patung Budha Besar, Ayah, Bunda dan teman-teman Bunda masuk ke komplek Watpho lebih dalam.

Chatucak weekend market

Setelah puas mengexplore watpho, tujuan selanjutnya adalah chatucak weekend market. Dari buku LP nya tante Ayu, untuk ke Chatucak dari Watpho, kita bisa naik bis nomer 44. akhirnya ayah, Bunda dan teman-teman bunda naik bis ini untuk ke chatucak, ongkosnya 15 bath (4500),  ini dia foto bisnya.

Sampai di chatucak, Ayah, Bunda dan teman-teman Bunda lansung disambut penjual buah, Jambu airnya gede -gede ya bunda, beli donk bunda, mau ngerasain jambu air thailand, begitu kata Ayah.

Akhirnya Bunda membeli jambu air, selain jambu air ada juga buah-buahan yang lain, ada rambutan, manggis dan anggur. serasa berada di Indonesia, hehehe. Jambunya manis dan segar, tak terasa  dua buah jambu air yang besar besar masuk kedalam perut, kenyang juga makan dua buah jambu.

selesai menikmati jambu air thailand tante Ayu mengusulkan untuk bertanya muslim food ke tourist information, oh iya di Bangkok ini tourism information ada di tempat-tempat strategis, jadi kalo bingung ke sini saja untuk tanya-tanya. dapat informasi dari petugas polisi turis ada satu muslim food di dalam chatucak, tapi bakalan susah nyarinya, secara chatucak areanya luas. sang polisi kemudian memberi saran untuk mencari muslim food di JJ Mall. masa di food courtnya ngak nemu barang satu restoran yang menjual muslim food. Akhirnya dengan mengikuti saran pak polisi Ayah, Bunda dan teman-teman Bunda menuju ke JJ mall menggunakan angkutan mirip kendaraan di taman buah, yang terbuka, bedanya yang disini gratis (inilah salah satu kelebihan Thailand), nih fotonya.

menggunakan angkutan terbuka sampailah Ayah Bunda dan teman-teman Bunda di JJ Mall, langsung menuju food court di lantai dua untuk mencari muslim food, namun dicari-cari tidak ketemu juga.Sampai akhirnya kita menemukan tempat makan, namanya Chesters grill , kalo dilihat menunya, tempat makan ini tidak menyediakan menu B2/pork. jadilah makan siang hari itu makan di chester grill

Selesai makan, Ayah, Bunda, dan teman-teman Bunda kembali ke Chatucak. hampir semua buah tangan yang dibawa pulang di dapatkan di Chatucak weekend market ini, dimulai belanja makanan khas thailand berupa kripik duren, asem (tamarin), dan teman-temannya, belanja tas, dompet, dan  belanja pernak-pernik. pokoknya komplit deh kalo mau cari kodok-kodokan yang bisa bunyi juga ada, hehehe. Setelah lelah berkeliling minum jus dulu, jus orange hanya 10-20 bath. dan terakhir sebelum menuntaskan belanja ayah dan Bunda belanja Kaos khas Thailand. harganya cukup murah berkisar 70-90 bath perkaos, mungkin karena ayah dan Bunda beli banyak kali ya, hehehehe.

Setelah belanja di Chatucak waktu sudah menunjukan pukul 16.30, awalnya mau cari tempat sholat dulu. Namun karena khawatir tidak bisa menemukan tempat sholat, diputuskan untuk kembali ke penginapan dan melakukan aktivitas sholat di hotel. karena bingung mau naik apa ke kaosan, ayah, Bunda dan teman-teman Bunda kembali ke turis information, sambil numpang duduk untuk meregangkan otot, tante ayu bertanya dengan apa kita bisa kembali ke Kaosan road. dapat jawaban naik bus no 3 dari seberang. Dengan menenteng beberapa bawaan, Ayah, Bunda dan teman-teman Bunda menyebrang untuk naik bus no.3. tidak sampai 5 menit bus yang ditunggu sampai, segera saja kita naik. kira-kira 45 menit sampailah di Kaosan road.

MBK (Mahboonkrong) center

Selesai mandi dan Sholat, Ayah, Bunda tante Shandy dan om Toto turun ke lobby hotel. Sambil menunggu tante Ayu dan tante Denik, ayah bertanya ke resepsionis hotel mengenai transportasi dari Kaosan ke MBK, kata si mbak “naik taksi, ngak sampai 100 bath kok ” kira-kira begitu kalau di terjemahin. Tidak berapa lama datanglah tante Ayu dan tante Denik, segera Ayah, Bunda dan teman-teman bunda jalan menuju MBK. di depan jalan Soi rambutri ada beberapa pengemudi tuk-tuk. tante Ayu berinisiatif untuk menanyakan tarif naik tuk-tuk dari soi rambutri ke MBK, 200 bathkata si abang, dalam hati wah mahal juga, mending naik taksi. akhirnya kita tinggalkan si abang tuk-tuk dan meneruskan perjalanan ke jalan Kaosan untuk menyetop taksi. berhubung Ayah, Bunda dan teman-teman Bunda berjumlah 6 orang, jadi dibagi menjadi dua taksi. taksi pertama berisi tante Shandy dan om Toto, sedangkan taksi kedua, berisi Ayah, Bunda tante Ayu dan tante Denik.

Setelah pintu taksi ditutup, MBK, begitu kata Ayah, mulailah sang taksi berjalan, wah si abang taksi ngebut juga nih bawanya, lumayan ugal-ugalan,  bahkan di traffic light dekat MBK,saat lampu akan beralih ke hijau, bak metromini, si abang taksi, mengambil jalur kanan dan memacu taksi dan membalap mobil-mobil lainnya yang sudah mengantri, alhasil tidak sampai 30 menit sampailah taksi yang dinaiki Ayah, Bunda tante Ayu dan tante Denik di MBK, biaya taksi : 60 bath dibagi berempat jadi 15 bath (Rp.4500) per masing-masing orang, murah kan hehehehe. sesampainya di MBK, tidak melihat om Toto dan tante Shandy, padahal mereka berangkat lebih dulu. Akhirnya tante Denik sms ke tante Shandy memberitahukan lokasi saat ini. karena setelah ditunggu-tunggu tidak bertemu juga, akhirnya kita minta tolong ke information center untuk di panggilkan lewat load speaker. tak berapa lama setelah diumumkan,tante Shandy dan om Toto muncul.

MBK, mirip mall2 di Indonesia, nothing special. Muter-muter sebentar sambil lihat-lihat dan mencari tempat makan malam. sulitnya mencari makanan halal, mostly restaurant yang ada menyajikan B2/pork, sampai lantai tiga kaki sudah mulai pegal, maklum siang tadi di forsir untuk jalan dari mulai grand palace, wat pho dan terakhir chatuchak. untungnya melihat ada poster restaurant yang menyediakan menu untuk vegetarian, segera Ayah, Bunda, dan teman-teman Bunda menuju lantai dasar.  Sesampainya di restaurant tersebut, ternyata restoran tsb tidak hanya menyediakan menu vegetarian, tapi ada juga menu B2/pork. karena perut sudah lapar, akhirnya tetap direstoran tersebut dan hanya memesan menu vegetarian.

Ayah memesan mie hongkong vegetarian dan segelas teh khas thailand sedangkan Bunda memesan tom yam vegetarian dan segelas jus nanas. yang istimewa kali ini adalah teh khas thailand, bener-bener nikmat.

tehnya mirip dengan teh tarik, yaitu teh yang dipadu dengan susu. yang berbeda adalah warnanya yang cenderung orange, sedikit berbeda dengan warna teh diIndonesia.

Insiden Taksi

Selesai makan malam, Om Toto terlihat kelelahan, akhirnya diputuskan Om Toto dan tante Shandy kembali ke penginapan, sedangkan ayah, Bunda, tante Ayu dan tante Denik melanjutkan perjalanan menuju Suanlum night bazaar, dari referensi yang di dapat di Internet, pasar ini adalah salah satu pasar ciri khas Bangkok, karena pasar ini bukanya malam. Seperti taksi yang dinaiki saat menuju MBK, abang taksi ini bawanya juga agak ngebut, sampai pada satu fly over saat jalan menurun, di bagian depan, agak sedikit padat, namun Ayah perhatikan kok si abang ngak ngerem, untungnya sesaat sebelum ayah bilang, si abang sudah menekan pedal rem, Alhamdulilah taksi berhenti tepat pada waktunya dan tidak menimbukan benturan. belum sempat dag dig dug hilang akibat rem mendadak, dari arah belakang terdengar  suara berdecit taksi yang mengerem mendadak, namun taksi belakang tidak bisa berhenti pada waktunya, sehingga benturan pun tak terelakan. diiringi teriakan histeris Bunda, tante Ayu dan tante Denik tertubruklah taksi yang ditumpangi.

Ayah perhatikan si abang sedikit kesal, segera saja ia membuka pintu dan bersiap memarahi supir taksi yang menubruk taksinya. Namun di luar dugaan, si abang keluar sambil tertawa dan setelah melihat kondisi taksinya akhirnya si abang kembali ke dalam taksi dan meneruskan perjalanan menuju suanlum night bazaar.

Suanlum night bazar

Sampailah Ayah, Bunda tante Ayu dan tante Denik di suanlum night bazar, mirip dengan chatucak weekend market, bedanya lebih lengang dan lebih rapi.

Di Suanlum night bazaar ini, Bunda tante Ayu dan tante Denik belanja beberapa buah tangan, seperti pashmina (bener ngak nih nulisnya), dan ayah dapat sumpit disini. Setelah belanja waktu sudah menunjukan pukul 24.00, kebetulan ada taksi, tanya-tanya, ternyata si abang taksi maunya ngak pake taxi meter, dan mintanya 300 bath, wah2 ngak deh, perasaan biaya taksi dibawah 100bath kalo pake meter. tanya ke abang taksi yang lain, sama mintanya 300 bath, wah ternyata taksi didalam komplek suanlum night nembak semua nih dan mintanya 300 bath. akhirnya diputuskan untuk berjalan ke arah depan, eh ngak sengaja ketemu food court, ternyata disini tokh fodcourtnya. Duduk sini dulu yuk ajak tante Ayu, kebetulan di bagian depan food cout ada pertunjukan musik, akhirnya Ayah, Bunda, tante ayu dan tante Denik duduk-duduk santai di food court suanlum night bazaar. Sedang asik lihat-lihat pertunjukan, eh ngeliat ada counter makanan yang menjual makanan halal, namanya falafel.

Tuk-tuk

Selesai, duduk-duduk, akhirnya kita menuju ke jalan dan menstop taksi, ternyata mirip dengan taksi di dalam komplek suanlum night bazaar, abangnya kekeuh ngak mau pake meteran,bedanya harganya lebih murah dari yang didalam yang diluar mintanya 200 bath. wah tetep lebih mahal nih, target nya 100 bath, si abang taksi kemudian bilang, kalau 100 bath nih naik tuk-tuk. abang tuk-tuk awalnya minta 150 bath tapi karena keukeuh, akhirnya abang tuk-tuk menyerah di 100 bath. diantarlah Ayah, Bunda tante Ayu dan tante Denik oleh si abang tuk-tuk, inilah pertama kalinya kita naik tuk-tuk, sumpe, bawanya gila-gilaan, kadang di zig-zag sama si abangnya, semakin kita teriak, semakin senang dia menzig-zagnya. di salah satu perempatan bahkan si abang ngebut menerobos lampu merah, jangan2 gara2 kita tawar sampe titik darah penghabisan, si abang jadi begini. dengan perut terkocok-kocok sampailah di kaosan road. ahh hari yang melelahkan.

Prev part –> Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-3

Next part –> Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-5

Entry filed under: My Lovely Journey. Tags: , , , , , , , , , .

Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-3 Sedikit Mengenai Bahasa Thailand

2 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 678,727 hits

Kategori


%d blogger menyukai ini: