Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-2

Januari 21, 2010 at 11:32 1 komentar

Ajeb-ajeb

Setelah tertidur cukup lama di pesawat menuju Bangkok, Ayah dibangunkan oleh announcement dari kru pesawat yang menginformasikan bahwa dalam waktu dekat, pesawat yang dinaiki akan sampai di Swarnabumi airport di Bangkok.

Pukul 22.00 waktu Bangkok, ayah, Bunda dan temen-temen Bunda mendarat dengan selamat di Swarnabumi airport. Karena sudah larut, Swarnabumi air port tidak terlalu ramai, sehingga untuk ke loket imigrasi tidak perlu antri. Agak sedikit berbeda dengan imigrasi di Indonesia, Singapura maupun Jepang, di Imigrasi ini, kita akan diminta menghadap kamera, sepertinya sih untuk difoto.

Selesai urusan imigrasi, Ayah, Bunda dan teman-teman Bunda cuci-cuci muka dan sedikit bersih-bersih di toilet untuk menghilangkan kantuk yang masih tersisa. Sambil menunggu teman-teman yang lain dari toilet, Ayah foto-foto sambil cari-cari informasi peta yang banyak di sediakan di bandara. ini foto bandaranya.

Dari informasi yang di dapat dari internet, ada beberapa pilihan transportasi yang bisa digunakan untuk mencapai hotel yang sudah di booking, pertama adalah Bus airport, seharga 150 bath/orang, yang kedua Taksi, sehraga 300-400 bath dengan surcharge sebesar 50 bath dan biaya tol sekitar 65 bath, dan yang ketika adalah kereta api, tapi untuk moda transportasi terakhir ini belum jelas apakah sudah di operasikan atau belum, selain itu kawasan hotel yang di booking agak jauh dari stasiun.

Akhirnya dengan alasan kepraktisan dan biaya akhirnya diputuskan untuk naik taksi menuju hotel. Untuk naik taksi dari Swarnabumi kita perlu antri terlebih dahulu dan membayar surcharge sebesar 50 bath/taksi, ini dia foto antrian dan petugas yang meminta biaya surcharge sebesar 50 bath.

Sesampainya diloket pembayaran surcharge, Tante Ayu dan Bunda bilang ke petugas, kalau kita memilih taksi yang jenisnya minibus, alasannya karena jumlah kita berenam dan hotel kita berada dikawasan yang sama. Informasi untuk teman-teman,di Swarnabumi ini ada dua jenis taksi yang tersedia yang pertama taksi jenis sedan dan yang kedua taksi jenis Minibus. Untuk jenis sedan, taksi akan menggunakan meter/argo, sedangkan untuk taksi jenis minibus biasanya sang supir menentukan harga diawal, dan kita perlu melakukan tawar-menawar (bargain) dengan sang supir. Kebetulan si petugas surcharge memberi tahu tarif untuk taksi minibus sekitar 700 bath, jadilah kita deal di 700 bath dengan uang tol ditanggung sang supir. setlah dihitung-hitung untuk berenam, kita hanya mengeluarkan biaya kurang dari 130bath (including surcharge), lebih murah kan dibanding menggunakan bus, hehehehe.

Di dalam taksi, kita bilang ke sang supir, tujuan kita adalah Rambuttri Village inn di jalan Soi rambuttri, tanpa banyak bicara sang supir langsung mengiyakan. Ngomong-ngomong soal penginapan, penginapan Ayah, Bunda dan Teman-teman bunda terbagi menjadi dua, tante Ayu dan tante Denik yang memegang teguh prinsip backpaker menginap di Lamphu House (www.lamphuhouse.com) dengan pilihan kamar, kipas angin dan shared bathroom alias kamar mandinya bareng-bareng seharga 400bath (kira-kira 120 rb rupiah) permalam, sedangkan Ayah, bunda, Tante Shandy dan om Toto yang memilih “sedikit naik kelas” menginap di Rambuttri Village inn (www.rambuttrivillage.com) dengan pilihan kamar AC dan private bathroom alias kamar mandi di dalam, seharga 800bath (kira-kira 240 rb rupiah) permalam.  Letak kedua penginapan ini bisa dikatakan bersebelahan, jadi jika diantara Bunda dan teman-teman ada perlu, tidak perlu menunggu waktu lama untuk bisa bertemu.

Untuk pemesanan penginapan ini, jauh hari sebelum Ayah, Bunda dan teman-teman Bunda ke Thailand, Bunda dan teman-teman sudah melakukan booking via internet. untuk booking kita akan ditanya nomor kartu kredit, so untuk yang mau menginap, dipastikan dulu ada kartu kredit yang bisa digunakan.

Kira-kira satu setengah jam perjalanan dari Bandara Swarnabumi, taksi yang dinaiki akhirnya berhenti, sang supir mengatakan soi rambuttri ada di seberang, dalam hati Ayah, bunda dan teman-teman wah kok ngak diantar sampe depan hotel nih, cuma sampai di depan jalan aja. oh iya, Penginapan Ayah, bunda dan teman-teman bunda berada di kawasan Banglampu area, nama detailnya kaosan road, menurut informasi yang di dapat di internet kaosan road ini tempat ngumpulnya para backpaker.

Setelah menurunkan barang bawaan dari taksi, Ayah, Bunda dan teman-teman bunda segera menyebrang dan menuju jalan Soi rambuttri, saat itu waktu menunjukan hampir jam 12 malam, namun dari kejauhan, gemerlap lampu dan musik yang terdengar keras disertai hiruk pikuk Bule-bule yang sedang minum-minum di semacam cafe/bar. Kondisi ramai ini bisa ditemui  di sepanjang Soi Rambutri, benar-benar mirip dengan suasana cafe dan bar di Bali yang dipenuhi Bule-bule. Dalam hati, ayah berkata wah tempat ajeb-ajeb nih. Dan akhirnya Ayah ngeh kalau supir taksi tidak bisa mengantar sampai dalam, karena di pinggir jalan penuh dengan kursi-kursi dari cafe yang digunakan bule-bule untuk sekedar bercengkrama.

7 Eleven

Kira-kira 100 meter dari jalan masuk, terlihatlah plang Tulisan Rambuttri Village inn ke arah sebelah kanan, Ayah, Bunda, tante Shandy dan om Toto langsung mendatangi front office untuk check in. sedangkan tante Ayu dan tante Denik menunggu di belakang.Eng ing eng, ternyata untuk menginap di sini kita perlu mendepositkan uang sebesar seribu bath untuk tiap kamar, jadilah keluar dua ribu bath untuk dua kamar. Setelah mendapatkan kunci kamar, cek nomornya ternyata nomor kamar Ayah dan Bunda E322 sedangkan tante Shandy dan om Toto dinomor E321.Tante Ayu dan tante Denik kemudian pamit untuk check in di Lamphu house.

Setelah naik lift ke lantai 3, sampailah di kamar no 22, begitu membuka pintu kamar langsung bisa melihat tempat tidur double bed yang nyaman, Alhamdulilah akhirnya Ayah dan Bunda bisa melepas lelah, setelah seharian jalan-jalan.

Selain tempat tidur, didalam kamar juga ada sebuah TV 14 inch dan AC yang umur pakainya sudah lebih tua dari umur Nara, hehehehe.  Selesai meletakkan tas dan berselonjor di tempat tidur, ayah mulai cuci muka dan bersih-bersih, ternyata kamar mandinya ada air panas juga.

Setelah sholat, lihat-lihat di meja, hanya ada dua gelas, air minumnya kok ngak ada, pemanas air juga ngak ada wah alamat bisa kehausan nih nanti malam. Karena takut haus menyerang dimalam hari, Ayah dan bunda mengajak tante Shandy dan om Toto untuk mencari minimarket. ternyata di depan hotel ada minimarket, namanya 7 eleven. Lihat-lihat ke dalam mini eleven ternyata ada tante Ayu dan tante Denik yang berbelanja juga. Harga air mineral di minimarket thailand tidak jauh berbeda dengan harga di indonesia. kira-kira satu air mineral 600 ml dihargai 7-10 bath.

Selesai belanja, tante Shandy ngajakin cari makan malam di sekitar hotel, jadilah malam itu kita jalan di tempat ajeb-ajeb di sekitar hotel. Setelah mencari selama 15 menit, ternyata tidak ditemukan makanan halal di sekitar hotel, yang di dapat hanya 2 buah pisang seharga 10 bath. Akhirnya Ayah, Bunda dan teman-teman bunda segera kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Prev part –> Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-1

Next part –> Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-3

Entry filed under: My Lovely Journey. Tags: , , , , , .

Tutup Tupperw*** ku Meleleh Road to Negeri Seribu Kuil, Thailand Part-3

1 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 678,727 hits

Kategori


%d blogger menyukai ini: